Thursday, July 31, 2008

ribut-ribut minggu ini

Njis, kalo lagi kumat hasrat ngeblognya, sehari bisa dua kali ngeblog. Hahhaha..

Gw mau komentar ah tentang hebohnya perkawinan salah seorang sosialita Jakarta karena dianggap tidak punya sense of crisis di tengah kondisi rakyat Indonesia yang serba kesusahan. Dan sebelum gw dikomentarin orang, dibilang gw juga gak punya sense of crisis, gw tekankan kalo gw emang gak punya sense of crisis.

Jadi gini ya bapak-bapak, ibu-ibu. Orang mau kawin kayak gimana pestanya kan terserah yang punya uang. Kalo dia mampu, kenapa nggak? Rejeki orang kan udah diatur sama Tuhan, kenapa harus menghujat (baca: IRI) orang yang lebih mampu.

Tadi sempet baca di detik.com, hujatan-hujatan yang ditulis pembacanya bikin gw senyum-senyum sendiri. C'mon, meskipun dihujat kayak apapun, pesta tersebut bakal tetep jalan kan? Si Bakrie juga tak akan membatalkan pestanya. Gw sih pengen para penghujat itu mikir dulu secara rasional sebelum berkomentar. Andaikan mereka punya uang sebanyak klan Bakrie, gw bisa jamin mereka tak akan menggelar pesta sederhana seperti yang mereka tulis di dalam kolom komentar itu. Iya kan?

Yang namanya pesta tetap pesta lah. Yang punya hajat akan menjamu tamu sebaik-baiknya. Itu bukan show off namanya, bagi gw itu cara mereka menikmati hidup. Dan kalo ada yang bilang bahwa sebagian harta Bakrie seharusnya disumbangkan, apakah mereka tahu secara pasti bahwa The Bakries tak pernah menyisihkan hartanya buat fakir miskin? Gak perlu menggelar jumpa pers kan kalo mereka mau menyumbang? Bukannya lebih baik tangan kiri tak tahu apabila tangan kanan berbuat kebajikan.. (sedaaaaaappp.. hahahhaa).

Jadi udah deh, let it go. Teriak-teriak kayak apapun juga gak diundang ke pestanya kan? Gw aja yang diundang males datang. HAKHAKHAKAHKAHKAH...